
Sumber: voi.id
Sekilas Jatim – Seorang pria bernama Zainudin alias Pon (28) yang berasal dari Pekon Kegeringan, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Dugaan kuat menyebutkan bahwa korban tewas akibat serangan harimau Sumatera saat sedang berada di kebunnya.
Peristiwa tragis ini terjadi di kebun Talang Kubu Balak, Dusun Way Lipu, pada hari Selasa (21/1) sekitar pukul 18:00 WIB. Sebelumnya, korban dilaporkan hilang sejak Minggu (19/1) saat pergi berkebun. Pihak kepolisian kemudian menerima laporan pada Selasa sore mengenai penemuan jenazah yang diduga merupakan korban serangan harimau. Laporan itu disampaikan oleh Kepala Dusun Melebui Balak, Pekon Tembelang, yang melaporkan bahwa seorang warga ditemukan meninggal dunia dengan kondisi yang mengerikan.
Kapolsek Bandar Negeri Suoh (BNS), Iptu Andi Junaidi, mengungkapkan bahwa korban ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan. Ia menjelaskan bahwa tubuh korban mengalami luka-luka yang diduga berasal dari gigitan hewan buas, dan terdapat bagian tubuh, seperti potongan tulang tangan, yang terpisah dari tubuhnya. Penemuan ini jelas menunjukkan bahwa serangan yang terjadi sangat brutal dan mengerikan.
Iptu Andi juga menyampaikan bahwa setelah mendapatkan laporan tentang hilangnya korban pada hari Minggu, pihak kepolisian segera melakukan pengecekan ke lokasi yang dilaporkan, yaitu di Dusun Melebui Balak, yang berbatasan dengan Talang Kubu Balak dan Dusun Way Lipu, Pekon Kegeringan. Tim gabungan, yang terdiri dari pihak kepolisian, BKSDA, serta warga setempat, melakukan pencarian dan menemukan jenazah korban di semak belukar di sekitar kebunnya.
Upaya evakuasi jenazah korban dilakukan dengan hati-hati dan koordinasi antara berbagai pihak, mengingat lokasi yang cukup sulit dijangkau. Tim gabungan melakukan musyawarah terlebih dahulu untuk mempersiapkan evakuasi dengan aman dan terkendali. Proses evakuasi dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses pengangkatan jenazah.
Menurut petugas yang terlibat, kebun milik korban memang terletak di area yang berbatasan dengan kawasan hutan, yang menjadi habitat alami bagi satwa liar, termasuk harimau Sumatera. Kejadian serangan harimau ini merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi di beberapa wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan dan kawasan lindung satwa.
BKSDA Bengkulu sendiri telah berada dalam keadaan siaga di lokasi, mengingat terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya harimau Sumatera, yang semakin sering terjadi di wilayah Lampung Barat dan sekitarnya. Kejadian ini kembali menambah daftar panjang insiden yang melibatkan harimau, yang sering kali terjadi di daerah yang memiliki keterbatasan dalam pengelolaan kawasan hutan dan pengawasan terhadap satwa liar.
Selain itu, insiden ini juga menunjukkan pentingnya kerjasama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak terkait dalam menghadapi potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Pemerintah diharapkan lebih meningkatkan upaya untuk mengurangi risiko tersebut melalui edukasi kepada masyarakat, pengawasan di kawasan rawan, serta upaya mitigasi yang dapat meminimalisir potensi serangan oleh satwa liar, terutama harimau Sumatera yang kini semakin terdesak oleh kerusakan habitat alaminya.
Peristiwa ini tentu menjadi pengingat bahwa keberadaan harimau Sumatera yang semakin terancam punah harus dikelola dengan lebih hati-hati. Penting untuk mencari solusi yang saling menguntungkan antara perlindungan satwa liar dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.