6 Maret 2026

Sekilas Jatim – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperbarui strategi pengembangan jet tempur generasi mendatang dengan memberikan kontrak kepada Boeing Co. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mempertahankan dominasi udara AS, terutama di tengah pesatnya peningkatan kekuatan militer China.

Pengumuman terkait proyek pengembangan jet tempur tersebut dilakukan di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Jumat. Dalam kesempatan itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan bahwa kebijakan ini mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada sekutu, yaitu bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk mendukung mereka. Selain itu, keputusan ini juga dianggap sebagai peringatan bagi negara-negara yang berpotensi menjadi musuh AS, bahwa kekuatan militer Amerika akan tetap mampu diproyeksikan di seluruh dunia tanpa hambatan dalam beberapa dekade mendatang.

Program yang dikenal dengan nama Next Generation Air Dominance (NGAD) ini telah mulai mengungkap beberapa detailnya. Dalam proses seleksi, Boeing berhasil mengungguli Lockheed Martin Corp. untuk memperoleh kontrak pengembangan jet tempur generasi keenam Angkatan Udara AS. Pesawat yang diberi nama F-47 ini diperkirakan mengacu pada Trump sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat.

Trump, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden ke-45 sebelum kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, mengungkapkan kepada wartawan bahwa jet tempur terbaru ini akan menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Menurutnya, pesawat ini akan memiliki berbagai keunggulan dari segi kecepatan, manuver, hingga kapasitas senjata yang dapat dibawanya.

Ia menegaskan bahwa F-47 akan menjadi jet tempur paling canggih, paling mampu, dan paling mematikan yang pernah diciptakan. Selain itu, versi eksperimental pesawat ini dikatakan telah diuji coba secara rahasia selama hampir lima tahun. Berdasarkan hasil uji tersebut, AS yakin bahwa pesawat ini memiliki keunggulan signifikan dibandingkan dengan teknologi yang dimiliki oleh negara lain.

Produksi armada jet tempur baru ini akan dilakukan selama masa jabatan kedua Trump, dengan teknologi siluman canggih sebagai salah satu fitur utama yang diusung. Selain itu, pesawat ini juga dirancang untuk dapat beroperasi berdampingan dengan pesawat nirawak pendamping, yang memberikan fleksibilitas lebih dalam operasi udara.

Di sisi lain, sementara AS mempercepat pengembangan pesawat tempur generasi terbaru, China dikabarkan juga sedang membuat kemajuan dalam proyek serupa. Negeri Tirai Bambu disebut tengah mengembangkan pesawat tempur generasi berikutnya yang tidak memiliki ekor dan secara tidak resmi dikenal sebagai J-36.

Sebagai bagian dari strategi militernya, AS juga membuka peluang bagi sekutu tertentu untuk mendapatkan versi F-47 dengan spesifikasi yang diturunkan. Trump mengisyaratkan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan negara-negara sekutu pada teknologi pertahanan lain, namun tetap dengan batasan tertentu.

Menurutnya, pengaruh sekutu dalam kepemilikan F-47 akan dikurangi sekitar 10 persen, dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan hubungan diplomatik di masa depan. Ia menekankan bahwa meskipun saat ini negara-negara tersebut berstatus sebagai sekutu, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti hubungan tersebut bisa berubah.

Dengan adanya program ini, Amerika Serikat berupaya memastikan bahwa kekuatan udaranya tetap menjadi yang terdepan dalam persaingan global. Keputusan untuk menunjuk Boeing sebagai mitra utama dalam proyek ini menunjukkan komitmen AS dalam mengembangkan teknologi militer yang lebih unggul dibandingkan negara lain, khususnya dalam menghadapi tantangan geopolitik di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *